Innalillahi wainnailaihi rajiun
Jumat 5 Juni 2009 pukul 23.40 wib
aku mendapat telepon dari Mahnun menanyakan ku sudah tidur apa belum?
Dengan tergesa-gesa Mahnun meminta ku berbagi dua untuk memberi kabar dengan
teman teman Psikolog atau teman marketing di PT. Mizan Medan, PKBI atau apa saja tempat kami, aku, Mahnun dan Astrid biasa bersama dalam pertemuan, diskusi apalah.
Aku bertanya dengan tidak sabar "Ada apa Nun?"
"Astrid baru saja meninggal dunia, "kata Mahnun
Gedegup jantungku menjadi kencang.
Innallillahi Wainnailaihi rajiun.
Aku kaget mendengarnya. Ya Allah terimalah Astrid disisiMU. Ampunkanlah dosanya.
Astrid begitu cepat kau pergi.... Sahabatku yang baik, yang suka memberikan nasehat pada teman-teman yang sedang ada problem. Aku kehilanganmu ketika mendengar kabar ini.
Sulit buatku menahan runtuhnya air mata ini. Sedih hatiku. Serasa tidak percaya tapi ....
semua sudah kehendakNya. Allah SWT lebih sayang kepadamu Astrid.
Teringat baru kemarin kita ngobrol, bercanda tawa, melihat senyummu.
Masih penuh semangat ke sana ke mari dengan membawa kehamilan yang membesar
dengan gigihnya memasarkan buku agama kepada handai tolannya sampai ke Binjai.
Bahkan Astrid mengirimkan sms kepada kami mengundang kami agar hadir pada hari Jumat
5 Juni 2009 pukul 14.00 Wib untuk pertemuan bulanan.
Tadi sore, Mahnun dan teman teman dari PT Mizan Medan, semua melihat Astrid (nama lengkapnya Asiatul Badriah).
Tapi aku tidak bisa datang, berencana besok Sabtu, 6 Juni 2009 saja melihatnya kembali ke rumah sakit, karena Kak Djasmaniar memintaku menemaninya besok Sabtu menjenguk Astrid. Jadi kuputuskan untuk menunda membezuk ke dua kalinya besok.
Menurut Mahnun, sms pukul 17.30 , kondisi Astrid masih belum sadar juga. Tapi tensinya dah turun 107, Pernafasannya dibantu dengan selang oksigen. Bantu doalah, kata Mahnun.
Mahnun juga sms aku pukul 00.50. Jangan lupa kabari Iin. Ya Iin sudah ku sms tadi, anggota Dhodhols. Mahnun berkata, "Aku ga bisa tidur, terbayang terus dengan selang-selang di wajahnya. Pelajaran buat kita seloro-seloro, merepet-merepet, umur ga tau".
Kutulis sms, dan kusebarkan berita duka ini kepada beberapa teman. Langsung tiga orang temanku menelpon kembali. Willy Andriani di Jakarta menghubungiku. Nunung juga dan mengaku tadi jam satu siang dia melihat di rumah sakit, katanya, keadaan Astrid mulai membaik. Dia sungguh tidak menduga Astrid begitu cepat pergi. Dan kak Djasmaniar menangis tersedu sedu dan mengatakan , karena banyak kerja di Binjai dia tidak bisa datang ke Medan.
Seperti menyesali dirinya tidak menjenguk Astrid tadi di rumah sakit.
Aku menenangkannya, "sudahlah kak, jangan disesali yang sudah terjadi"
Besok pagi kita ke sana di Jalan Yos Sudarso Medan.
Aku menghela nafas tidak tahu harus berkata apa apa.
Astrid teman kuliahku yang rajin, penuh semangat, suka menolong, suka tertawa. Malah kami membentuk grup namanya "Dhodhol" sejak kuliah dengan niat kelak kalau jadi psikolog akan buka praktek bersama sama. Sekarang anggota Dhodhols telah punya kegiatan masing masing dan sibuk dengan pekerjaannya. Astrid sangat konsisten, walaupun sejak menikah tinggal di Jakarta bersama suaminya, dia tetap memberikan konseling kepada klien. Dimanapun dia berada, dia tetap memberikan konseling. Ah... Astrid... selamat jalan sahabatku.
Temanku Astrid Meninggal Dunia
Jumat, 05 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar