Temanku Astrid kejang kejang

Kamis, 04 Juni 2009

Rabu 3 Juni 2009

Entah apa yang terjadi sama Astrid ? Dia, teman kuliahku di Fakultas Psikologi. Sedang hamil besar anak ke tiga. Anak pertamanya laki-laki usia 9 tahun, anak kedua nya meninggal ketika akan dilahirkan. Anaknya keluar sendiri saat dia merasa hendak buang air kecil. Namun, dalam keadaan tidak bernyawa. Kejadian kehamilan anak ketiga ini sama dengan kejadian anak keduanya.Waktu itu dia kejang kejang dan tekanan darahnya sangat tinggi. Saat itu, Astrid tertolong.

Diperkirakan dia melahirkan akhir Juni ini atau awal Juli. Suaminya mengatakan padaku dan Mahnun yang datang menjenguk di rumah sakit setelah mendapat kabar “Astrid kejang-kejang masuk ICU.” Di kamar ICU kulihat Astrid teriak teriak kesakitan antara sadar dan tidak sadar. Mulutnya mengoceh, menceracau meminta suaminya membantunya.

Tindakan operasi terpaksa dilakukan dengan perjanjian antara suaminya dan dokter untuk mengatasi resiko yang ada. Anak nya dikeluarkan sebelum waktunya. Bayi perempuan kecil 2 kg. Saat itu dalam incubator dan tidak boleh dilihat. Ibu si bayi meraung-raung kesakitan di ruang ICU. Kaki dan tangannya diikat agar tidak keluar dari rosbang. Dia meronta ronta terus menahan sakit. Matanya tidak terbuka, mulutnya sulit berkata kata. Kata yang keluar dari mulutnya terdengar celat. Bibirnya kaku, lidahnya kelu.

Hatiku miris sekali melihat kondisinya. Padahal, dia pada hari Selasa 2 Juni 2009, masih memberikan konseling kepada klien. “Masih terlihat segar,sehat waktu memberikan konseling”, “kata suaminya yang kelihatan berusaha tegar melihat kondisi istrinya. Keluarga Astrid menunggu di luar dengan berharap cemas. Wajah mereka semuanya muram. Anak laki-lakinya bertanya pada ayahnya, “Mama kenapa Yah?”.

Kenapa Astrid? Aku dan Mahnun membahasnya. Kami mendapat informasi dari Rita, adikku, bahwa Astrid kena Eklamsi. Biasanya pada wanita hamil. Ketika kami tanyakan dengan suaminya mengenai hal ini, suaminya membenarkan. Dokter bilang begitu.

Apa itu eklamsi? eklamsi adalah kejang akibat pre-eklamsi, tindakan yang mungkin dilakukan adalah meyelamatkan ibu dan bayinya, biasanya bayi yang lahir dengan kasus ini akan lahir dengan berat badan rendah atau kuranggizi.

Pre-eklamsi dijelaskan oleh sebuah teori yang dikeluarkan oleh Dr Haig "pre-eklamsi adalah bentuk ekstrem dari strategi yang umum digunakan oleh semua janin. Dalam hal ini, janin meningkatkan tekanan darah si ibu untuk mendorong lebih banyak darah ke arah plasenta yang umumnya bertekanan rendah.

Dalam hal ini, pre-eklamsi berkaitan erat dengan jumlah substansi yang diinjeksikan janin ke aliran darah si ibu. Karena itu, pre-eklamsi baru terjadi jika si janin terlalu banyak menginjeksikan substansi ke aliran darah si ibu.

Mengapa si janin melakukan hal itu, Dr Haig mengatakan, si janin terpaksa melakukan hal itu, kemungkinan karena kesulitan mendapatkan makanan. Dengan kata lain, makanan si janin kurang tercukupi."


Teori ini dilengkapi oleh "Teori Dr Haig menarik perhatian Dr Ananth Karumanchi dan para koleganya dari Sekolah Medis Harvard. Mereka berhasil membuktikan kebenaran teori Dr Haig. Karumanchi dan kolega menemukan penyebab pre-eklamsi. Dikatakan, pre-eklamsi terjadi ketika si ibu terlalu banyak mendapatkan asupan protein sangat tinggi yang disebut (mudah larut) fms (sfms) seperti tirosin kinase 1 atau sFlt1 atau yang sejenis itu.

Teori itu dibuktikan pula melalui laboratorium lain yang berakhir dengan kesimpulan membenarkan. Dalam penelitian lebih lanjut, Karumanchi mengindikasikan bahwa protein sangat tinggi itu berpengaruh pada kemampuan si ibu dalam memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil di pembuluh darahnya.


Seiring dengan semakin banyaknya kerusakan pembuluh darah, tekanan darah pun meningkat. Seperti dugaan Dr Haig, protein tinggi itu diproduksi oleh janin, bukan si ibu.


Bagaimana tanda-tanda yang harus diwaspadai untuk mencegah hal ini, Setiap wanita hamil yang mempunyai tekanan darah 140/90, akan mengalami edema (bengkak) pada wajah dan tangan. Albuminuri plus 1 atau lebih, atau yang tekanan darahnya naik 30 mm Hgsystolic dan 15 mm Hg diastolicbisa diangap preeklamsi. Pasien yang memiliki tekanan darah 150/110 dengan edema yang jelas, atau albuminuri dapat dikatakan mengalami preeklamsi berat.

Kebanyakan pasien dengan preeklamsi harus segera melahirkan.

0 komentar: